Showing posts with label makalah. Show all posts
Showing posts with label makalah. Show all posts

Wednesday, August 6, 2014

Karya Tulis Ilmiah

1. Pengertian Tulisan Ilmiah
                Ada sementara orang yang masih membedakan antara tulisan dan karangan. Persepsi mereka biasanya mengaitkan kata tulisan dengan hal-hal yang bersifat ilmiah, sedangkan karangan mengacu pada hal-hal yang bersifat  fiktif atau rekaan. Namun sebenarnya makna kata tulisan sama dengan keterangan. Dengan demikian orang yang melakukan kegiatan menulis berarti ia melakukan kegiatan mengarang. Hasil kegiatan menulis atau mengarang ini bagaimana pun bentuknya kita sebut sebagai tulisan atau pun karangan tanpa membedakan itu ilmiah atau pun tidak.
                Tulisan atau karangan pada hakikatnya merupakan organisasi ide atau pesan secara tertulis. Jika kata itu dikaitkan dengan kata ilmiah, maka hasil organisasi ide atau pesan itu disebut tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (keilmiahannya).
Dengan demikian sebuah tulisan dapat disebut tulisan ilmiah apabila:
(1) Mengandung suatu masalah beserta pemecahannya.
Masalah tersebut hendaknya mampu memberi respon kepada audiens (pembaca) sehingga ia ingin mengetahui pemecahan masalah yang kita kemukakan. Agar pembaca terangsang untuk     membaca apa yang kita tulis, maka hendaknya kita selalu menampilkan persoalan yang menarik dan masih hangat-hangatnya dibicarakan. Setelah kita memberikan masukan masalah yang baru dan segar, kita harus mampu pula berkiat untuk memberikan pemecahan-pemecahan terhadap persoalan yang kini diajukan.
(2) Masalah yang dikemukakan harus objektif.
Sesuai dengan realita yang ada dan bukan semata-mata hasil rekan penulis atau angan-angan yang tanpa didasari landasan berpikir ilmiah.
(3) Tulisan harus lengkap.
Maksudnya semua segi yang terkait dengan masalah yang dibicarakan harus dikemukakan secara lengkap dan jelas dalam tulisan tersebut.
(4) Tulisan harus disusun dengan metode tertentu.
Hal ini harus dilakukan sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan keobjektifannya.
(5) Tulisan harus disusun menurut sistem tertentu.
Hal ini yang membuat tulisan mudah dimengerti dan berkoherensi (berkesinambungan).

2. Ciri-ciri Tulisan Ilmiah
                Ada beberapa ciri yang menandai sebuah tulisan ilmiah. Ciri-ciri tersebut adalah:
(1) Logis, yakni segala keterangan atau pun informasi yang disajikan memiliki argumentasi yang dapat diterima dengan akal sehat.
(2) Sistematis, yakni segala yang dikemukakan disusun berdasatkan urutan yang berjenjang dan berkesinambungan .
(3) Objektif, yakni segala keterangan atau informasi yang dikemukakan itu menurut apa adanya dan tidak bersifat fiktif (rekaan).
(4) Tuntas dan menyeluruh, yakni segi-segi masalah yang dikemukakan ditelaah secara lengkap/menyeluruh.
(5) Seksama, yakni berusaha menghindarkan diri dari berbagai kesalahan, betapapun kecilnya.
(6) Jelas, yakni segala keterangan yang dikemukakan dapat mengungkapkan maksud secara jernih.
(7) kebenarannya dapat teruji.
(8) Terbuka, artinya sesuatu yang dikemukakan itu dapat berubah seandainya muncul pendapat baru.
(9) Berlaku umum, yakni kesimpulan-kesimpulannya berlaku bagi semua populasinya.
(10) Penyajiannya memperhatikan santun bahasa dan tata tulis yang sudah baku.

3. Syarat-syarat Tulisan Ilmiah
                Hal pokok yang harus diperhatikan dalam tulisan ilmiah adalah tulisan itu harus mampu memberi pemahaman kepada pembaca atas tulisan yang telah dibuat. Untuk mencapai target tulisan ilmiah yang baik, maka tulisan itu harus memenuhi kriteria seperti yang diutarakan oleh Benjamin Frakklin yang disitir Deborah C. Andrews (1978: 68-69), yakni:
                Good writing should procced regularly from things unknown distinctly and clearly without confusion. The words used should be the most expressive that the language affords, provided that they are the most generally understood. Nothing should be expressed in two words that can be as well expressed in one; that is, no synonyms should be used, or very rarely, but the whole should be as short as possible, consistent with clearness; the word should be so placed as to be agreeable to ear in reading; summarily it should be smooth, clear, and short, for the contrary qualities are displeasing.
                Jadi tulisan dapat dianggap baik apabila tulisan itu mampu menjelaskan dari sesuatu yang belum diketahui secara jelas dan ringkas, tanpa membingungkan pembaca. Secara lebih terperinci Andrews (1978:3) mengemukakan lima prinsip dasar sebagai patokan tulisan yang baik yakni:
(1) accurate
(2) clear
(3) concise
(4) conventional
(5) appropriate
Kelima kriteri penulisan yang baik tersebut dapat dijelaskan pada uraian berikut:
(1) Tulisan yang baik bersifat akurat (Good writing is accurate)
     Yang dimaksud dengan akurat disini adalah tulisan itu memberikan gambaran apa adanya tanpa memutarbalikkan fakta. Misalnya, kita menulis tentang kehidupan masyarakat di pedalaman Irian Jaya. Untuk mendapatkan daya yang akurat, kita tidak hanya percaya pada sekelompok orang yang tinggal disana untuk kemudian kita menggali data dengan berbagai cara. Misalnya kita mengadakan wawancara dengan pihak Pemerintah Daerah setempat tentang keadaan desa atau daerah yang akan kita teliti mulai dari tingkat pendidikan sampai ke masalah sosial budaya. Setelah data itu terkumpul, kemudian data itu kita olah dengan disertai referensi-referensi yang mendukung (mulai pendidikan sampai budaya), sehingga akan menghasilkan suatu tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmuannya.
(2) Tulisan yang baik bersifat jelas (Good writing is clear)
     Tulisan dapat dikatakan jelas apabila isinya dapat dengan mudah dimengerti atau dipahami oleh pembaca. Untuk mencapai kejelasan suatu tulisan, maka penulis harus mampu mengungkapkan idenya dengan bahasa yang baik tanpa menyulitkan pembaca untuk memahaminya, dan agar tidak menimbulkan salah tafsir pembaca terhadap apa yang kita tulis.
(3) Tulisan yang baik bersifat ringkas (Good writing is concise)
     Yang dimaksud dengan ringkas bahwa tulisan itu langsung mengenai ke permasalahan, tanpa memanjanglebarkannya sehingga semakin mengaburkan ide pokoknya. Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan kata-kata, kalimat-kalimat, atau alinea-alinea yang efektif, dan kepiawaian penulis dalam merumuskan ide-idenya dalam suatu kalimat yang efektif dan tersaji dalam alinea yang utuh. Dengan demikian pembaca akan mudah memahami setiap ide yang tertuang dalam setiap alinea, dan pada akhirnya dengan mudah dan cepat bisa memahami tulisan itu secara keseluruhan. Untuk mendalami pemakaian kalimat yang efektif akan dibicarakan tersendiri pada postingan selanjutnya.
(4) Tulisan yang baik bersifat konvensional (Good writing is conventional)
     Konvensional disini artinya konvensional dalam penggunaan bahasa (ejaan, kata, frase, kalimat) dan juga konvensional dalam hal kepenulisan. Konvensional dalam penggunaan bahasa misalnya, bagaimana menuliskan unsur serapan, huruf besar, kata ulang, dan sejenisnya. Sedangkan konvensional dalam hal kepenulisan dapat berupa; bagaimana menyusun sistematika tulisan, bibliografi, catatan kaki (footnote), dan sebagainya.
(5) Tulisan yang baik bersifat padu atau utuh (Good writing is appropriate)
     Yang dimaksud dengan padu atau disini adalah apabila ketiga hal (materi, tujuan, dan pembaca) dapat terjalin dengan baik. Maksudnya, penulis sebagai perantara harus bisa merengkuh materi, bentuk, dan cara mengekspresikan yang bersatu dalam suatu wacana informasi yang tepat dan serasi tentang materi yang ditulisnya dan kepada siapa tulisan itu ditujukan.

4. Bentuk-bentuk Tulisan Ilmiah
    Secara umum tulisan ilmiah dapat dibeda-bedakan berdasarkan tingkatan kajian permasalahan tulisan itu. Ada tulisan yang mengkaji masalah secara sederhana, tetapi ada pula tulisan ilmiah yang mengkaji permasalahan sampai detail. Bandingkan saja kalian masalah antara paper dengan tesis, demikian pula dengan disertasi. Sedang yang termasuk tulisan ilmiah adalah: laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi, buku/diktat.
4.1  Laporan
                Laporan adalah suatu tulisan yang dibuat oleh seseorang setelah melakukan percobaan, peninjauan, observasi, pembacaan buku (referensi) dan sebagainya. Laporan disusun berdasarkan data yang ada dengan disertai penilaian baik buruknya secara objektif serta saran-saran seperlunya. Hal lain yang harus diperhatikan oleh penulis laporan adalah hendaknya laporan itu dapat mengemukakan permasalahan yang dilaporkan secara benar, jelas, detail dan ringkas.
4.2 Makalah
                Makalah pada dasarnya merupakan tulisan yang berisikan prasaran, pendapat uang turut membahas suatu pokok persoalan yang akan dibacakan dalam rapat kerja, symposium, seminar, dan sejenisnya. Istilah makalah itu sendiri terkadang dikaitkan dengan karya tulis di kalangan siswa/mahasiswa, yakni segala jenis tugas tertulis yang berhubungan dengan bidang studi, hasil pembahasan buku atau tulisan tentang suatu persoalan. Hanya saja penamaan tugas siswa/mahasiswa ini sering dikatakan paper dibandingkan makalah, meski antara keduanya mengandung makna yang sama.
4.3 Skripsi
                Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian ataupun telaah pustaka sebagai prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana di jenjang perguruan tinggi dan dipertahankan di depan siding ujuan. Pada waktu dahulu, skripsi digunakan untuk memperoleh gelar sarjana muda (B.A., B.Sc., dan sebagainya). Sedang untuk masa sekarang skripsi merupakan karya ilmiah untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar sarjana strata satu (S1).
4.4 Tesis
                Tesis merupakan karya ilmiah yang tarafnya lebih dalam dan lebih metodis daripada skripsi. Pada waktu yang lampau pun istilah ini dikaitkan dengan persyaratan pemerolehan gelar sarjana strata satu (S1). Namun sesuai dengan Surat Edaran Bersama antara MENDIKBUD dan Kepala BAKN Nomor 61395/MPK/1987 dan Nomor 21/SE/1987 tertanggal 28 September 1987 ditegaskan bahwa tesis merupakan karya tulis ilmiah untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar sarjana strata dua (S2). Perbedaan istilah antara skripsi dan tesis ini dimaksudkan untuk menegaskan batas pengertian antara keduanya, dimana sebelumnya istilah ini sering dikacaukan dalam pemakaiannya.
4.5 Disertasi
                Disertasi merupakan karya tulis ilmiah untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelat sarjana strata tiga (S3). Disertasi ini ditujukan untuk mencapai gelar Doktor (Dr.), yakni gelat tertinggi yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi. Masalah yang dibahas dalam disertasi ini sudah barang tentu lebih kompleks dan detail dibandingkan dengan tesis maupun skripsi. Sedangkan penulisan disertasi ini dibimbing oleh seorang promotor yang telah berpangkat professor (Prof.).
4.6 Buku/Diktat
                Buku ataupun diktat juga merupakan bentuk tulisan ilmiah. Baik buku maupun diktat memberikan informasi yang factual tentang suatu disiplin ilmu. Meski keduanya memberikan data yang tersaji secara sistematis dan metodis, namun antara keduanya terdapat perbedaan yang cukup jelas. Buku ditulis oleh pengarang untuk menjelaskan atau memperkenalkan isinya untuk keadaan yang lebih umum. Buku umumnya dicetak oleh suatu penerbit. Sedangkan diktat ditulis dalam suatu keadaaan tertentu dan untuk mengarahkan proses belajar mahasiswa ataupun siswa. Diktat bisa distensil saja, bukan oleh penerbit, tetapi dalam lingkungan sendiri (Fakultas, Jurusan, Sekolah, dan sebagainya).
                Dalam proses belajar mengajar, apabila sudah tersedia buku, sebaiknya kita menggunakan buku tersebut dan kita cukup membuat lembat edar (hand-out) sebagai tambahan materi dan penjelasan riil dari informasi buku yang telah tersedia. Tetapi apabila buku pokok tidak tersedia, maka kita dapat menyusun diktat sebagai media bantu dalam proses belajar mahasiswa maupun siswa.
   
 

Friday, May 16, 2014

MAKALAH SEJARAH STUDI ISLAM DIDUNIA BARAT


SEJARAH STUDI ISLAM DIDUNIA BARAT

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Islam adalah agama yang sempurnah diantara agama yang telah turun sebelum Islam diturunkan. Nabi Muhammad Saw adalah orang yang terpilih untuk untuk mensyi’arkannya keseluruh umat manusia, beliau berpedoman pada satu kitab suci yaitu Al Qur’anul Karim.
Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia, dan sikap-sikap positif lainnya.
Hal inilah, yang menyebabkan orang Barat tertarik untuk mempelajari Islam, baik dari budaya maupun dari ilmu pengetahuan. Sehingga kebudayaan Islam di Dunia Barat menjadi berkembang menjadi pesat. Pada dasarnya orang barat mengakui kebenaran Islam, tetapi kenapa mereka kebanyakan tidak mau masuk islam? Jawabnya orang barat kebanyakan gengsi dan takut jatuh harga diri mereka disebabkan masuk Islam.
Mereka takut meninggalkan agama warisan nenek moyang mereka, karena agama tersebut telah diwarisi secara turun temurun.
Sesuai dengan pernyataan diatas, maka pada kali ini kami selaku penulis telah menyusun sebuah makalah yang berjudul Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia Barat.
Didalam makalah ini juga, kami akan membahas objek kajian, yaitu tentang latar belakang perkembangan studi islam di dunia barat, pengertian studi Islam, Islam sebagai sains di dunia barat dan dampak yang ditimbulkan dari perkembangan studi Islam di dunia barat serta timbulnya Studi Islam di Negara-negara Barat.
BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH STUDI ISLAM DIDUNIA BARAT
A. Latar Belakang Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia Bara
Kemajuan peradaban barat dimulai pada Periode Pertengahan (1250-1800 M), yang mana peradaban islam pada periode ini mengalami stagnasi. Sedangkan peradaban barat mengalami perkembangan yang sangat pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi sampai sekarang ini. Sebenarnya perkembangan tersebut banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa Andalusia (Spanyol) pada massa pemerintahan Bani Abbasiyah adalah merupakan salah satu tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap peradaban islam baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar negara.
Salah satu contoh yang kami ambil adalah pemikiran Ibnu Rusyd yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir.
Dari pemikiran Ibnu Rusyd inilah yang menarik minat orang-orang barat untuk belajar. Diantara pemuda Kristen Eropa yang belajar di Universitas-Universitas Islam di Andalusia, seperti Universitas Codova (pendirinya abd Al Rahman III), Seville, Malaga, Granada dan Salamanca. Selama mereka belajar di lembaga-lembaga tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya para ilmuan muslim. Pusat kegiatan terjemahan itu berada di Toledo. Setelah mereka kembali kenegara masing-masing, mereka mendirikan Sekolah-sekolah dan Universitas. Universitas yang pertama mereka dirikan di Eropa pada tahun 1231 Masehi.
Jadi sudah jelaslah menurut kami, bahwa latar belakang Berkembanganya Studi Islam di Dunia Barat adalah disebabkan para pelajar barat yang datang ke Jazirah Arabiyah untuk belajar. Disamping itu juga mereka telah berhasil menterjemahkan karya-karya ilmuan muslim kedalam bahasa latin.
Gerakan ini pada akhirnya menimbulkan massa pencerahan dan revolusi industri, yang menyebabkan Eropa maju. Dengan demikian Andalusia merupakan sumber-sumber cahaya bagi Eropa, memberikan kepada benua itu manfaat dari ilmu dan budaya Islam selama hampir tiga abad.
B. Signifikasi Studi Islam
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang makanya tak cinta” mungkin kata pepatah ini tepat untuk istilah diatas. Pada dasarnya kebudayaan-kebudayaan kuno dan modern digerakkan oleh komunikasi dan kontak melalui perjalanan, migrasi atau penaklukan. Mereka juga bergerak melalui lukisan, ukiran, monument, peninggalan, buku-buku dan karya seni. Hal ini sepenuhnya benar dalam hal kebudayaan Islam, karena ia dikenal oleh melalui dua saluran utama; kontak pribadi dan penyalinan serta penerjemahan.
Mengenai pengertian Studi Islam, dikalangan para ahli masih terdapat perdebatan tentang Studi Islam (agama) dimasukkan kedalam ilmu pengetahuan. Menurut Amin Abdullah; Islam kalau dilihat dari Normativitas kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena normativitas studi Islam agaknya terbebani oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis, dan apologis, sehingga kadar muatan analisis, kritis, metodologis, histories, empiris, terutama dalam menelaah teks-teks atau naskah-naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan. Sedangkan untuk Studi Islam dilihat dari Historisitas tampaknya tidaklah salah.
Inilah Islam kalau dilihat secara historisitas yakni Islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni ilmu keislaman atau Islam Studies.
C. Islam Sebagai Sains di Dunia Barat
Pada dasarnya Studi Islam dan Sains Islam ada perbedaan dan persamaan. Persamaan studi dan sains adalah sama-sama objek kajiannya adalah ilmu pengetahuan agama. Sedangkan perbedaannya, Studi Islam adalah suatu ilmu pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran islam yang dipraktekkan dalam sejarah dan kehidupan manusia. Sedangkan Sains Islam adalah suatu ilmu pengetahuan yang mencakup berbagai pengetahuan modern seperti kedokteran, astronomi, matematika, fisika, dan sebagainya yang dibangun atas arahan nilai-nilai islami.
Dan Sains Islam sebagaimana dikemukakan Hussein Nasr adalah sains yang dikembangkan oleh kaum muslimin sejak abad islam ke-2, yang keadaannya sudah tentu merupakan salah satu pencapaian besar dalam peradaban Islam.
Selama kurang lebih 700 tahun, sejak abad ke-2 hingga ke-9 Masehi, peradaban islam mungkin merupakan peradaban yang paling produktif dibandingkan peradaban manapun jua.
Dari Sains Islam inilah membuat orang barat tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan islam yang sampai terkenal di Eropa. Al hasil, menurut Harun Nasution; salah satu contoh kemajuan orang barat adalah Napoleon melakukan Ekspedisi ke Mesir dengan memperkenalkan ilmu pengetahuan dengan membawa 167 ahli dalam berbagai cabang ilmu. Diapun membawa dua set alat percetakan huruf Latin, Arab, dan Yunani. Ekspedisi itu datang bukan hanya untuk kepentingan militer, tetapi juga untuk kepentingan ilmiah.
Untuk kepentingan ilmiah, Napoleon membentuk lembaga ilmiah yang disebut dengan Institut d ‘Egypte yang mempunyai empat bidang ilmu kajian, yaitu ilmu pasti, ilmu kalam, ilmu ekonomi dan politik, serta ilmu sastra dan seni.
Betapa gemilangnya kemajuan dunia barat dengan mempelajari dan mendalami studi dan sains Islam. Hal ini terjadi pada akhir tahun 1801 Masehi, pada waktu inilah membuka mata umat islam bahwa mereka telah ketinggalan sangat jauh dalam ilmu pengetahuan, maka pada waktu ini dikenal dengan massa Islam Periode Modern.
D. Dampak yang ditimbulkan dari Perkembangan Studi Islam Bagi Dunia Barat.
Setelah Studi Islam Berkembangan begitu pesatnya di dunia barat, maka mulai tampaklah kelihatan dampak-dampak yang ditimbulkannya mulai dari hal yang positif maupun negatif.
  1. Dampak Positif
Kehadiran Islam di Eropa Spanyol membawa perubahan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat, terutama dalam aspek peradaban dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari hal ini telah menimbulkan semangat orang barat dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang dibawah oleh islam. Al hasil, maka banyaklah orang barat yang menguasai ilmu pengetahuan dari islam, seperti ilmu kimia, ilmu hitung, ilmu tambang (minerologi), meteorology (karya Al Khazini), dan sebagainya. Sedangkan dibidang teknologi adalah orang barat bisa membuat berbagai macam alat industri yang dihasilkan dari observasi atau penelitian. Sekitar abad ke-16 M telah ditemukan sebuah alat perajut kaos kaki. Kemudian tahun 1733 M John Kay telah berhasil membuat alat tenun baru yang dapat bekerja lebih cepat dan menghasilkan tenunan yang baik. Pada tahun 1765 M Hargreaves berhasil membuat alat pintal yang dapat memintal berpuluh-puluh gulung benang sekaligus. Kemudian sekitar tahun 1780 M terjadi revolusi industri di Inggris, seperti ditemukannya mesin uap oleh James Watt pada tahun 1769 M dan alat tenun oleh Cartwright tahun 1785 M yang menyebabkan Inggris menjadi negara industri maju.
  1. Dampak Negatif
Diatas telah kami jelaskan, bagaimana dampak positif dari perkembangan studi Islam di dunia barat. Perlu diketahui disamping adanya dampak positif, ada juga dampak negatif yang ditimbulkannya.Adapun dampak negatif itu adalah dapat kami uraikan sebagai berikut :
1. Setelah bangsa barat menjadi bangsa yang maju dan telah mengalami revolusi dibidang industri. Maka mereka mendapati masalah kekurangan bahan baku dalam kegiatan industrinya. Kemudian untuk mencari jalan keluarnya mereka berlomba-lomba mencari di dunia Timur, yang kebanyakan dikuasai oleh pemerintahan muslim. Di samping itu, mereka juga memerlukan tempat pemasaran baru bagi hasil industrinya ke negara-negara Timur. Sebagai akibatnya, banyak negara-negara Barat datang kedunia Timur dan terjadilah Ekspansi besar-besaran dalam bidang social, politik, ekonomi dan sebagainya. Di waktu itulah terjadi suatu massa kolonial dan imperial, yaitu massa dimana bangsa-bangsa Barat melakukan penjajahan terhadap dunia Timur, khususnya dunia muslim. Suasana seperti itu menyebabkan dunia Timur mengalami kemunduran dan Barat mencapai kemajuan pesat dari hasil kolonialisme dan imperialisme atas dunia Timur.
2. Rupanya dampak negatif yang kedua ini adalah bagaikan kacang lupa kulitnya. Saya kira istilah ini memang pantas ditunjukkan pada orang barat, karena kenapa ? mereka sungguh tidak tahu diri. Ilmu yang berkembang di Dunia Barat itu adalah dari islam, akan tetapi mereka mengingkarinya, mereka tidak mengakui. Malahan mereka mengaku ilmu tersebut berasal dari peradaban lain, bukan dari peradaban islam. Ada seorang sarjana bernama Max Dimont mengatakan bahwa orang Barat itu menderita Narcisisme, yaitu mereka mengagumi diri mereka sendiri, dan kurang memiliki kesediaan untuk mengakui utang budinya kepada bangsa-bangsa lain. Mereka hanya mengatakan, bahwa yang mereka dapatkan itu adalah warisan dari Yunani dan Romawi.
E. Perkembangan Studi Islam di Negara-Negara Barat
Di antara berita gembira ini, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Tamim ad-Dari. Ia berkata : Aku mendengar Rosulullah S.A.W. bersabda :
لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الاَمْرِ مَابَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ, وَلاَيَتْرُكَ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَوَبَرٍ, اِلاَّ اَدْخَلَهُ اللهُ هَاذَا الدِّيْنَ, بِعِزِّ عَزِيْزٍ, اَوْبِذُلِّ ذَلِيْلٍ, عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ الاِسْلاَمَ, وَذُلاَّ يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ.
Artinya
Islam akan mencapai wilayah yang dicapai siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah yang mewah maupun yang sederhana kecuali akan memasukkan agama ini kedalamnya. Dengan memuliakan orang yang mulia atau dengan menghinakan orang yang hina. Mulia karena dimuliakan Allah disebabkan keislamannya dan hina karena dihinakan Allah disebabkan kekafirannya “.
(HR. Ahmad)
Makna sampainya islam ke daerah yang disentuh siang dan malam, yaitu tersebarnya islam keseluruh permukaan bumi, sebagaimana siang dan malam menutupinya, dan masuknya agama ini ke daerah perkotaan maupun pedesaan.
Dalam perkembangan studi islam di Negara-Negara Barat, dalam bagian tertentu dapat dibedakan sebagai berikut :
1) Studi Islam mensyaratkan kajian intensif tentang bahasa Arab sebagai bahasa. Diantara pemula pakar bahasa Arab dari Jerman adalah Johann Jokab Reiske (1716-1774). Kajian-kajian bahasa Arab berkembang secara luas di Eropa sejak permulaan abad ke-19. salah satu dari ahli-ahli dalam bidang ini adalah seorang sarjana Perancis A.I. sylvestre de Sacy (1758-1838).
2) Studi teks hanya dapat dilakukan berdasarkan pada pengetahuan yang solid tentang bahasa Arab dan bahasa islam yang lain, seperti bahasa Persia, Turki, Urdu dan melayu-termasuk di dalamnya kritik teks dan sejarah kesustraan. Dengan demikian edisi-edisi dari teks-teks tersebut dianggap sebagai pra-syarat dalam kajian-kajian tekstual.
3) Keahlian dalam kajian teks, pada gilirannya, merupakan pra-syarat dalam kajian sejarah. Termasuk didalamnya berbagai kajian terhadap para sejarawan muslim. Sebagian besar Studi Islam saat ini di Negara-negara Barat lebih bisa dipahami dengan latar belakang perkembangan histories. Sejarah Studi Islam merupakan sebuah kajian tersendiri; dalam kesempatan ini barangkali cukup untuk mengacu pada sebuah monograf yang berkaitan dengan persoalan tersebut, serta sebuah kajian yang memfokuskan pada lima islamolog terkemuka pada 100 tahun pertama studi Islam.


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
  1. Perkembangan studi Islam di dunia barat, disebabkan oleh adanya kontak langsung antara orang barat dengan orang islam, adanya pelajar barat yang belajar kedunia islam dan adanya gerakan penerjemahan kitab.
  2. Islam lebih dikenal didunia barat adalah sebagai Sains daripada Studi.
  3. Salah satu contoh kemajuan ilmu pengetahuan dunia barat adalah adanya Ekspedisi Napoleon ke Mesir.
  4. Perkembangan peradaban barat yang berkembang begitu pesat, dimulai sejak periode pertengahan, dimana peradaban umat Islam pada saat itu mengalami stagnasi.
  5. Dari perkembangan studi Islam yang berkembang di dunia barat, membawa dampak yang positif dan negatif.
  6. Hasil perkembangan studi Islam di Dunia Barat, membuat para ilmuwan Barat banyak tertarik untuk mengkajinya.
B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini mungkin masih terdapat beberapa kesalahan baik dari isi dan cara penulisan.
Untuk itu kami sebagai penulis mohon maaf apabila pembaca tidak merasa puas dengan hasil yang kami sajikan, dan kritik beserta saran juga kami harapkan agar dapat menambah wawasan untuk memperbaiki penulisan makalah kami.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdullah, Amin. 1996. Studi Islam Normativitas atau Historisitas. Yogyakarta.
Abuddin Nata, 2004. Metodologi Studi Islam, (Jakarta: RajaGrapindo Persada)
Azim Nanji, 2003. Peta Studi Islam; Orientalisme dan Arah Baru Kajian Islam di Barat, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru)
Hossein, Sayyed, Nasr. 1995. Menjelajah Dunia Modern. (Bandung: Mizan.)
Jamali, Al, Fadhil. 1992. Menerabas Krisis Pendidikan Dunia Islam. (Jakarta: Golden Terayon Press).
Murodi, 2003. Sejarah Kebudayaan Islam; Madrasah Aliyah Kelas Tiga, (Jakarta: Karya Toha Putra Semarang)
Yusuf Qardhawi, 1997. Berita Kemenangan Islam, (Jakarta : Gema Insani Press)